Laman

Senin, 26 Mei 2014

Inilah Pengembang Terbaik BTN Award 2014



JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk kedua kalinya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) memberikan penghargaan kepada mitra kerja dan pengembang di seluruh Indonesia. Penghargaan diberikan kepada pengembang properti yang telah menjadi mitra bisnis Bank BTN untuk membangun rumah rakyat.

Untuk tingkat nasional, BTN menganugerahi BTN Property Award 2014 kategori rumah bersubsidi kepada PT Alindatama Sakti, PT Nusantara Almazia dan PT Tata Bumi Persada. Sedangkan penghargaan kategori rumah non subsidi diberikan kepada PT Graha Anugrah Nusantara Property, PT Duta Paramindo Sejahtera dan PT Duta Pratama Propertindo.

Penghargaan tingkat regional terbagi menjadi empat wilayah yakni RO-I sampai RO-IV. Wilayah RO-I diraih PT Mustika Putri Nusantara, PT Wiwitan Mitra Mandiri, PT Agustaraya Hastamanda. Wilayah RO-II, PT Bulan Terang Utama, PT Gunung Batu Utama, PT Hamparan Cipta Griya. Wilayah RO III, PT Sinar Graha Indonusa, PT Sinar Bodhi Cipta, PT Ogan Graha Mandiri. Wilayah RO-IV, PT Herlina Perkasa, PT Pesona Purnama, PT Mustika Jaya P.

Penghargaan untuk pengembang rumah non subsidi wilayah RO-I diberikan kepada PT Surya Inti Propertindo, PT Ispi Pratama Lestari Perkasa, PT Mustikasari Hadiasari. Wilayah RO-II, PT Graha Agung Perkasa, PT Lombok Royal Property, PT Muara Artha Purnama. Wilayah RO-III, PT Citra Graha Cemerlang, PT Alam Berkah Cemerlang, PT Mekar Jaya Perkasa. Sedangkan wilayah RO-IV, PT Azarya Griya Persada, PT Dua Sugih Properti, dan PT Karyapama Marga Abadi.

"Award ini sebagai bentuk apresiasi kepada teman-teman pengembang dan mitra bisnis lainnya agar terus termotivasi membangun sekaligus memberikan kontribusi kepada BTN," ujar Direktur Utama BTN Maryono pada BTN Property Award, Jumat malam (23/5/2014) lalu.

Maryono menambahkan, acara tahunan yang digelar sejak 2013 ini dapat mempererat kerjasama bisnis Bank BTN dengan para pengembang.

Sabtu, 03 Mei 2014

Batasi Ruang Gerak Spekulan!

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati pasok-pasok apartemen terserap pasar secara maksimal, dalam arti tingkat penjualannya positif, namun menyisakan kekhawatiran. Bahwa ternyata, konsumen pembeli apartemen-apartemen menengah-murah yang tersebar di Jadebotabek, tidak seluruhnya pengguna akhir (end user). Sebagian besar, meski bukan mayoritas, adalah pembeli dengan motif investasi (investor).
Bahkan ada di antara konsumen kami yang membeli sekaligus 9 unit. Mereka membeli untuk anak-anaknya atau dijual kembali di pasar seken. Transaksi di pasar seken sudah mencapai Rp 375 juta per unit untuk tipe 21. Turn over-nya cepat.
-- Andreas

Hal ini terkonfirmasi dari catatan penjualan apartemen The Green Pramuka City yang dikembangkan PT Duta Paramindo Sejahtera, The Hive di Cawang, milik Wika Realty dan Sentra Timur Residence yang dibangun KSO Bakrieland Development dan Perumnas di Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Menurut Head of Sales and Marketing CY Andreas, jumlah pembeli apartemen yang bermotif investasi nyaris separuhnya dari 5.000 unit yang sudah terserap pasar. "Bahkan ada di antara konsumen kami yang membeli sekaligus 9 unit. Mereka membeli untuk anak-anaknya atau dijual kembali di pasar seken. Transaksi di pasar seken sudah mencapai Rp 375 juta per unit untuk tipe 21. Turn over-nya cepat," papar Andreas.

Dengan kualifikasi material bangunan yang mengalami peningkatan mutu dan harga jual yang bersahabat, Duta Paramindo Sejahtera mampu menjual 300 unit apartemen per bulan. Jika dikonversi ke dalam nilai uang menjadi sekitar Rp 110 miliar.

Sementara Direktur Utama PT Wika Realty Budi Sadewa, dari data yang tercatat, para investor membeli lima sampai 10 unit apartemen. Bahkan ada beberapa di antaranya yang memborong hingga 25 unit sekaligus dari total 422 unit yang ditawarkan. Kontribusi investor tersebut sangat signifikan terhadap tingkat penjualan The Hive. Sebagaimana karakteristik khas investor, mereka membeli apartemen secara kontan dan atau tunai bertahap. Kendati Wika juga menyediakan fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

Serupa halnya dengan unit-unit Sentra Timur Residence yang kinerja penjualannya dipengaruhi aktifitas investor. Menurut Direktur Sentra Timur Residence Djafarullah, pemburu keuntungan itu membeli sekitar 30-40 persen dari total unit-unit yang ditawarkan. Mereka ini, imbuh Djafar, baru belajar berinvestasi atau "memutar" uangnya dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap aset propertinya.

Praktik spekulasi ini sebetulnya "membahayakan" dan perlu diwaspadai karena jika apartemen-apartemen tersebut tidak dihuni atau paling buruk tingkat huniannya minimal, akan berpotensi menekan harga jual. Menyusul potensi pasifnya aktifitas di pasar seken dan sepinya transaksi sewa-menyewa. Ini justru yang harus dihindari. Pengembang harus berani membatasi pembelian produk apapun (apartemen atau pun rumah), misalnya satu konsumen diperbolehkan membeli maksimal 2-5 unit. Sehingga pertumbuhan harga berlangsung wajar dan terkendali.

Associate Director Housing Service Colliers International Indonesia Aliviery Akbar mengatakan pembatasan pembelian jumlah unit ini dapat menekan kenaikan harga yang sifatnya spekulatif. "Para investor jadi berpikir ulang untuk menaikkan harga dengan pertumbuhan yang tak masuk akal. Cara pembatasan pembelian ini sangat efektif dalam menciptakan pertumbuhan harga yang alami dan wajar," imbuhnya.

Jumat, 25 April 2014

Mengapa UPVC??

Struktur bangunan properti baik rumah maupun apartemen pastinya memiliki kusen entah sebagai rangka jendela maupun pintu. Fungsinya sudah jelasantara lain sebagai sarana untuk akses keluar dan masuknya penghuni kedalam bvangunan, sebagai sirkulasi udara, sebagai pencahayaan dan tekadang membuat membuat rumah tampak lebih Indah dan Elegan.
Kusen sebagai pintu ataupun jendela dibuat pada dinding bangunan dan secara langsung bersentuhan dengan panas matahari dan air hujan. Karena itulah diperlukan material yang baik dan dapat berumur panjang dan tahan lama dan umumnya menggunakan kayu. Namun seiring dengan waktu, material kayu sudah sulit didapat apalagi yang berkualitas baik. Hal ini berbanding lurus dengan harga yang dipasaran.

Beruntung kini sudah bermunculan produk produk alternatif sepertibahan UPVC untuk kusen, daun pintu dan daun jendela seperti yang digunakan pembangunan Green Pramuka City. Di Green Pramuka City menggunakan material tersebut dari tower Fagio (tower 1) sampai sekarang di tower scarlet (tower 7).  Pada umumnya untuk produk apartemen sejenis dan bangunan dengan harga yang sama, menggunakan almunium saja.



Kenapa perlu menggunakan UPVC dan apa kelebihanya? UPVC kepanjangan dari Unplasticized Poly Vynil Chlorid. UPVC merupakan material turunan plastik, yang artinya salah sifat bahan ini pada dasarnya adalah keras sama seperti plastik namun sudah diminimalisir sifat plastisnya sehingga mudah berkurang kelenturannya dan mudah dibentuk. Sebelum dibentuk menjadi kusen biasanya bahan UPVC dicampur dengan komponen anti UV (anti Ultra violet)

Sejarahnya UPVC pertama kali digunakan didaerah barat seperti Eropa dan Amerika, namun kini telah meluas ke penjuru dunia karena penggunaan kayu dibatasi yang dapat mengakibatkan Global warming terutama akhir akhir ini.

Kelebihan UPVC adalah:
1.  Anti Rayap
2.  Anti Karat
3.  Anti Bocor
4.  Anti Muai / Susut
5.  Kedap Suara
6.  Hemat Energi
7.  Tahan Cuaca
8.  Mudah Perawatan

Untuk Pemakaian di Indonesia UPVC sangat Dianjurkan karena:
1.  Kayu mudah lapuk karena kelembaban yang tinggi.
2.  Kayu mudah terserang rayap.
3.  Kayu pasti akan mengalami muai susut sehingga perlu di rawat setiap tahun.
4.  Kayu semakin hari semakin mahal.
5.  Aluminium kurang kedap suara.
6.  Aluminium kurang anti bocor.

Saat ini Green Pramuka City mulai dari tower Fagio yang konsep awal pertama kali adalah rusunami, sudah menggunakan UPVC baik untuk kusen Jendela maupun kusen untuk Pintunya, baik untuk kusen pintu masuk, pintu kamar, maupun pintu balkon. Hal ini merupakan nilai lebih dibandingkan dengan apartemen setipe dengan Green Pramuka City, yang kebanyakan masih menggunakan kusen berbahan dasar almunium. 

Sabtu, 01 Februari 2014

Inilah Pilihan Apartemen dengan Harga Terjangkau

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak salah bila pengamat properti dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengatakan bahwa sepuluh tahun lagi warga Jakarta harus tinggal di apartemen.

Bagaimana tidak demikian bila harga lahan sudah selangit dengan rentang Rp 10 juta hingga Rp 100 juta per meter persegi. Tingginya harga lahan berpengaruh terhadap nilai properti yang dibangun di atasnya. Untuk diketahui, harga rumah tapak baru di dalam Kota Jakarta saat ini mencapai sekitar Rp 1 miliar hingga Rp 30 miliar per unit. Itu pun stoknya terbatas.

Harga rumah vertikal alias apartemen pun ikut meroket. Menurut hasil riset Jones Lang LaSalle Indonesia, jika pada 2010 harga apartemen termurah senilai Rp 7 juta per meter persegi, tahun ini melonjak menjadi Rp 12 juta per meter persegi. Sementara apartemen kelas menengah menjadi Rp 20 juta per meter persegi dari sebelumnya Rp 15 juta per meter persegi atau naik 33 persen. Untuk apartemen kelas atas, harga jualnya sekitar Rp 30 juta per meter persegi atau hanya beranjak 20 persen dari tahun lalu sebesar Rp 25 juta per meter persegi.

Hal tersebut berdampak pada orientasi bisnis para pengembang. Terlebih lagi, pengembang dengan cadangan lahan terbatas, mereka akan memilih membangun apartemen ketimbang rumah tapak.

Data Colliers International Indonesia memperlihatkan, terdapat 83 proyek apartemen yang saat ini sedang dibangun di Jakarta, dan akan siap dihuni tahun ini hingga 2015 mendatang. Sementara pasokan rumah tapak, menurut catatan Kompas.com, justru berasal dari kawasan pinggiran, bukan di dalam Kota Jakarta. Jadi, mau tidak mau, siap tidak siap, warga Jakarta harus tinggal di apartemen sebagai satu-satunya opsi yang bisa diambil.

Sayangnya, dari 83 proyek tersebut, apartemen dengan harga Rp 12 juta per meter persegi hanya beberapa, sedangkan apartemen menengah dengan harga Rp 20 juta per meter persegi justru mendominasi.

Berikut pilihan apartemen yang bisa diakses, baik oleh masyarakat berpenghasilan terbatas maupun kelas menengah, dengan harga berkisar Rp 300 juta hingga Rp 700 juta per unit.

Pakubuwono Terrace (Tower 2), Sherwood Apartment (Wellington Tower), Sherwood Apartment (Regent Tower), dan The H Residence, Pluit Seaview (Maldives Maldives), Sky Terrace Lagoon, LA City Apartment (Tower A),  The Hive @ Tamanasari, The Green Pramuka (Tower Chrysant), dan The Green Pramuka (Tower Bougenville).

Selanjutnya East Park (Tower C), Belmont Residence (Tower Montblanc), Teluk Intan (Tower Saphire), Tifolia Apartment, Green Signature, Pluit Seaview Apartment (Belize Tower),
Pluit Seaview (Ibiza Tower), Pluit Seaview (Bahama tower), Bassura City (Flamboyan Tower), The Nest Apartment, dan Point 8.

Menyusul The Green Pramuka (Orchid Tower), The Green Pramuka (Penelope Tower), The Green Pramuka (Scarlet Tower), Bassura City (Edelweis Tower), Bassura City (Dahlia Tower), Bassura City (Cattleya Tower), Bassura City (Alamanda Tower), The Aspen Peak at Admiralty, Casablanca East Residence, Signature Park Grande, dan Metro Park Grande.

Sumber
http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/01/25/1330349/Inilah.Pilihan.Apartemen.dengan.Harga.Terjangkau

Jumat, 31 Januari 2014

Investasi Properti Tahun Ini? Silakan Saja..

JAKARTA, KOMPAS.com — Silakan berinvestasi di bidang properti tahun ini, meski bertepatan dengan pemilihan umum. Pemilihan umum dalam rangka memilih Presiden RI merupakan salah satu momen penting dalam sejarah bangsa dan negara. Momen tersebut pun sering kali disinyalir mampu memengaruhi pasar. Lantas, bagaimana prospek sektor properti pada tahun 2014 yang kebetulan didapuk sebagai tahun politik?

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghada pada acara bincang-bincang di Jakarta, Kamis (23/11/2013), mengungkapkan bahwa jika menilik rekam jejak kondisi ekonomi Indonesia pada tahun sebelumnya, tahun ini pertumbuhan sektor properti memang melambat. Hanya, ini merupakan siklus yang normal dan tak perlu ditakutkan. Menurutnya, isu-isu lain, seperti kehadiran bubble (gelembung), tidak akan terjadi.

"Masuk 2014, pasar properti melambat. Pertumbuhannya 20 hingga 25 persen. Tetap naik, tapi melambat. Harga pun tidak akan jatuh. Kapan pun, mau ada pemilu, tidak ada masalah," ujar Ali.

Hal senada disampaikan oleh CEO Finance Consulting, Eko Endarto. Menurut Eko, berinvestasi di bidang properti sama dengan memiliki angsa emas. Sambil menguasai properti tersebut, Anda pun bisa mencari keuntungan darinya. Namun, Eko juga meminta Anda memerhatikan kondisi di sektor ekonomi Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.

"Anda lihat historis. Ini yang terjadi," ujarnya.

Eko juga mengutarakan, IHSG selalu naik sesudah pemilu. Pengalaman dalam pemilu sebelumnya, yaitu pada 2004 dan 2009, IHSG naik, diikuti pula dengan kenaikan harga properti. Lagi pula, Eko menimbang bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai matang secara politik.

"Harapannya, tidak perlu ada kejadian buruk yang membuat masyarakat enggan berinvestasi di sektor politik," kata Eko.

Praktisi pun sependapat dengan hal itu. Sales Manager Green Pramuka City Joko Sumariyanto misalnya, mengungkapkan, bahwa akan ada penurunan dari pertumbuhan. Walau demikian, pengembang tidak khawatir dengan kondisi sekarang.

"Tanah itu tidak bisa berkembang dan kebutuhannya terus meningkat, sementara suplainya sudah sangat susah. Penurunan rating penjualan dikarenakan dua hal, daya beli masyarakat melemah atau sebenarnya masyarakat punya uang tapi takut. Itu saja," kata Joko.

Untuk itu, lanjut dia, ia akan memberikan keyakinan pada end user bahwa semuanya baik-baik saja.

sumber:
http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/01/23/1442449/Investasi.Properti.Tahun.Ini.Silahkan.Saja.

Kamis, 23 Mei 2013

Green Pramuka City 'One Stop Living Environment'

TEMPO.CO, Jakarta-Dengan tetap mengusung konsep kawasan hunian superblok yang terintegrasi, The Green Pramuka Apartment kini berganti nama menjadi Green Pramuka City. Sesuai perkembangan pembangunan proyek apartemen, serta visi dari PT Duta Paramindo Sejahtera (PT DPS), pengembang Green Pramuka City.

Penambahan berbagai fasilitas termasuk area komersial, diharapkan dapat menunjang kenyamanan penghuni maupun calon penghuni. Tanpa meninggalkan konsep awal, yaitu hunian eksklusif dan strategis di pertemuan tiga wilayah (Jakarta Pusat, Utara, dan Timur), serta dibangun dengan konsep hijau. Apartemen yang berada di lahan 12,9 hektare ini  80 persennya adalah ruang terbuka.

The best view apartment with new concept of entertainment and lifestyle at the lower areamerupakan visi Green Pramuka City. Setelah sukses menjual 100 persen unit di empattower sebelumnya (Tower Faggio, Tower Pino, Tower Chrysant, dan Tower Bougenville), saat ini sedang dipasarkan tower ke-5 yakni Orchid yang telah terjual 70 persen sejak diluncurkan pada Januari 2013 dan tower ke-6 'Penelope' yang diluncurkan April 2013.

Di dua tower existing (Tower Faggio dan Tower Pino) sudah tersedia food court, joging trek, ATM center, serta kolam renang sebagai perwujudan “One Stop Living Environment"

Sumber :

http://www.tempo.co/read/news/2013/05/17/140481258/Green-Pramuka-City-One-Stop-Living-Environment

Sabtu, 04 Mei 2013

The Green Pramuka tahap dua meluncur tahun ini


JAKARTA. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, empat menara apartemen yang dibangun di fase pertama The Green Pramuka di Jalan Ahmad Yani, Jakarta Pusat, sudah laku terjual. PT Duta Paramindo Sejahtera selaku pengembang The Green Pramuka, langsung melanjutkan pengembangan ke fase kedua.

Kepala Divisi Penjualan dan Pemasaran The Green Pramuka, CY Andreas bilang, fase kedua The Green Pramuka meliputi empat menara apartemen, seluruhnya akan meluncur pada tahun ini. "Pada Januari, kami sudah merilis menara Orchid dan April ini kami baru saja merilis menara Penelope," ujar dia, Jumat (26/4). Sedangkan dua menara lagi akan menyusul dilepas ke pasar pada kuartal tiga dan kuartal empat.

Menara The Green Pramuka yang dibangun di fase kedua lebih eksklusif dibanding fase pertama karena posisinya paling depan. Satu unit terkecil dihargai Rp 252 juta. Sebagai perbandingan, unit terkecil di fase pertama dihargai Rp 150 juta per unit.

The Green Pramuka sejatinya merupakan rusunami untuk mendukung program 1.000 menara rusunami pemerintah. Tapi, Andreas mengklaim, kualitas The Green Pramuka setingkat di atas rusunami. Karena itu, harga jualnya lebih mahal daripada rusunami. Berdasarkan profil pembelinya, The Green Pramuka lebih didominasi end user sebanyak 70%-75%.

Nantinya, di atas lahan The Green Pramuka yang luasnya 12,9 ha akan dibangun 17 menara apartemen. Setiap menara terdiri dari 800 unit sampai 1.000 unit. Bukan hanya apartemen, The Green Pramuka akan dilengkapi pusat belanja seluas 3.200 m² serta ruko. Dalam setiap menara, tersedia belasan unit ruko.

Seluruh proyek The Green Pramuka ditargetkan selesai pada 2018. "Nilai proyek Rp 5 triliun," ujar Andreas tanpa menyebut investasinya. The Green Pramuka adalah proyek properti perdana Duta Paramindo. Tapi, perusahaan ini sudah berpengalaman lebih dari 25 tahun sebagai kontraktor, antara lain untuk membangun bandara PT Angkasa Pura I serta perkantoran dan hotel di beberapa kota.

Duta Paramindo berniat meneruskan ekspansi di bisnis properti, dengan membangun proyek di di Jakarta, Bandung, dan Semarang.

Sumber

http://industri.kontan.co.id/news/the-green-pramuka-tahap-dua-meluncur-tahun-ini